All posts by salmanpratama

Selayaknya manusia

Kata tetaplah sebuah kata

Kata tetaplah sebuah kata

Tak bermakna bila tak diberi makna, tak berarti bila tak diberi arti

Kata hanyalah sebuah kata

Tak bernyawa bila tak diberi nyawa, hanya sederet simbol yang sebenarnya fana

Kata tinggallah sebuah kata

Tak berdaya tanpa cinta, hanya ada namun sebenarnya hampa

Kata bukanlah manusia

Tak berkehendak membuat cipta, bahkan gairahpun hampir tak ada

Kata tetaplah sebuah kata

Tak seindah terlihat mata, sebab mata saja tak cukup untuk melihatnya

Ekspektasi Nilai Diri

Ketika kita melihat orang-orang sukses tentu akan ada perasaan ingin sama seperti mereka. Sama suksesnya dengan mereka. Sama bahagianya dengan mereka. Sesaat diri ini akan termotivasi. Penuh gairah untuk bertranformasi guna memantaskan diri dalam kesuksesan. Namun, ketika berhadapan kembali dengan realitas hidup yang kita jalani, semua buyar. Impian dan harapan kesuksesan seakan mimpi yang tak akan pernah bisa tergapai oleh diri. Ekspektasi terhadap mimpi tak sejalan dengan ekspektasi terhadap nilai diri.
Teringat akan sebuah konsep ekspektasi, ekspektasi terhadap nilai mata uang tepatnya. Ternyata ekspektasi cukup menentukan nilai mata uang suatu Negara di masa yang akan datang. Kita ambil contoh antara rupiah dan dolar Amerika. Jika para ekonom berekspektasi bahwa nilai rupiah akan melemah terhadap dolar di masa depan maka para pemegang rupiah akan dengan segera menukarkan uang rupiahnya ke dalam dolar sesegera mungkin dengan harapan ketika nanti nilai rupiah melemah terhadap dolar ia akan mendapat keuntungan dari penukarannya sekarang. Maka hal itu otomatis akan membuat peredaran rupiah di masyarakat berkurang. Berkurangnya jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berakibat pada turunnya nilai rupiah akibat ketidakpercayaan masyarakat yang langsung menukarkan uang rupiahnya ke dolar. Artinya, ekspektasi terhadap jatuhnya nilai rupiah di masa depan justru menjadi stimulan yang menjatuhkan nilai rupiah saat ini.
Begitu juga dengan ekspektasi kita terhadap diri. Persangkaan kita terhadap nilai diri di masa depan akan memengaruhi nilai diri kita saat ini. Keraguan akan nilai dan kemampuan-kemampuan kita untuk hebat di masa depan akan berdampak pada melemahnya semangat juang kita saat ini sebab kita beranggapan bahwa bagaimanapun diri ini tak akan bisa untuk menjadi hebat di masa depan. Cukup banyak orang yang berfikir “ah sudahlah tak usah terlalu ngotot mengejar sesuatu, toh sama saja, sudah takdir kita menjadi orang biasa”. Akhirnya orang-orang tersebut tak pernah serius dalam mengerjakan apa yang dihadapinya. Dan menjadi logis akhirnya mengapa orang-orang ‘bawah’ tetap menjadi orang ‘bawah’ di masa depan ketika ia tak mau merubah cara berfikir tentang dirinya. Begitupun dengan orang-orang ‘atas’ yang sepertinya memang sudah garis hidup keluarga mereka untuk menjadi orang ‘atas’. Padahal tidak demikian. Orang yang kini berada pada kemakmuran melihat dirinya mampu untuk sesuatu besar di masa depan, itu sebab ia yakin akan bisa meraihnya sehingga sikap dan perilakunyapun menunjukkan keyakinan itu. Berbeda dengan orang ‘bawah’ yang melihat ada tembok besar yang menghalangi dirinya dengan kesuksesan. Padahal tembok itu tidak pernah benar-benar ada. Namun, mereka yang pesimis semakin mengokohkan keberadaan tembok tersebut dengan memberinya nama “nasib’.
Maka merubah cara pandang kita terhadap nilai diri di masa depan akan merubah sikap dan perilaku kita di masa kini. Dan itu berarti merubah banyak hal dalam hidup kita.

      “Tak apalah kau tak yakin dengan dirimu, asal kau yakin dengan Tuhanmu.
      Tak apa kau tak yakin dengan kemampuanmu, asal kau yakin dengan kemampuan Tuhanmu untuk memampukanmu.
      Tak apa kau tak yakin dengan hasil usahamu, asal kau yakin dengan segala kebaikan taqdir dan ketetapan Tuhanmu.
      Sebab Tuhanmu telah lebih dahulu percaya kepadamu, sebelum kau percaya dengan-Nya.”

– Salim Pratama –

Aku Dididik Seperti Ini

Seseorang sangat antusias ingin menjadi dokter. Seorang lainnya begitu bersemangat menjadi dosen. Ternyata kawannya ada yang begitu berminat menjadi pembalap. Dan ternyata beberapa orang tua yang kini bekerja sebagai operator mesin pabrik dulunya bercita-cita menjadi tentara. Sangat unik memang keinginan manusia. Namun, lebih unik lagi jalan hidup si manusia itu. Kemauan, cita-cita, dan impian yang pernah terpatri banyak yang kemudian menguap seiring memanasnya udara bumi yang mereka tinggal di dalamnya. Lalu, salahkah itu? Tidak juga.

Apa yang terpapar dalam tulisan ini bukanlah sebuah teori yang bisa menjadi rujukan. Bukan pula sebuah metode yang bisa memformulasikan variaabel-variabel kehidupan guna menuju kesuksesan. Ini hanya sebuah refleksi sederhana tentang mengapa seseorang perlu mengerti untuk apa ia melakukan sebuah proses pendidikan dan pembelajaran.

Saya ingat sekali dulu ada seorang teman yang punya cita-cita menjadi seorang dokter. Seiring berjalannya waktu, ketika awal SMA, cita-citanya berubah menjadi seorang kontraktor. Alasannya karena pelajaran Fisika lebih mudah dibandingkan Biologi, katanya. Lalu saat di universitas, ternyata ia mengambil jurusan Manajemen. Kontraktornya? Ternyata Fisika tidak sesederhana yang ia perkirakan. Impian itu kembali menguap.

Fenomena di atas mungkin sering kita temui terjadi pada teman-teman di sekitar kita atau mungkin pada diri kita sendiri? Yaa, begitulah adanya. Sering kesulitan dalam proses pendidikan menyebabkan kita menggeser impian kita, bahkan tak jarang seakan “menurunkan standar diri” kita. Bagi beberapa orang, mengganti impian yang awalnya menjadi dokter dengan impian menjadi kontraktor diawali dengan pemikiran tentang sulitnya belajar hal-hal yang penting bagi dokter, Biologi misalnya. Bukan karena pemikiran bahwa kontraktor lebih bisa membuatnya bermanfaat bagi banyak orang. Akhirnya, impian itu tergeser. Namun, pada ujungnya Biologi tetaplah sulit. Sedangkan Fisika pun tak bertambah mudah dengan pilihannya itu. Sehingga kembali ia banting stir dengan memilih program studi yang jauh dari Biologi dan Fisika. Bertambah mudahkah hidupnya? Tidak juga. Setiap hal pasti punya titik menantangnya tersendiri. Jika kita tak mampu manangkap pembelajaran di sana, maka hidup kita akan tidak jelas, kehilangan orientasi, dan hasilnyapun akan seadanya.

Fenomena lain tentang pendidikan adalah mengenai penghargaan atas kebaikan. Sudahkah itu optimal? Jika ada seorang mahasiswa yang sudah belajar dengan kemampuan yang ia miliki, kemudian ketika ujian dilaksanakan ia melakukannya dengan jujur, namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Nilainya dibawah standar. Lalu, kira-kira bentuk penghargaan seperti apa yang ia dapatkan untuk usahanya dalam belajar? Penghargaan apa yang ia dapat untuk kejujurannya dalam ujian?

Sebenarnya tidak akan menjadi masalah yang begitu berat ketika seseorang mendapatkan nilai kecil naumun ia tetap dihargai. Sebab, penghargaan, pengakuan, dan penghormatan merupakan kebutuhan dasar manusia yang secara hakikat perlu terpenuhi. Munculnya keinginan seseorang untuk mendapatkan nilai yang baik, harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, pendamping yang menawan, kehidupan yang baik, salah satunya adalah karena ada penghargaan, pengakuan, dan penghormatan dalam setiap pencapaian tersebut. Mungkin, ini juga yang pada akhirnya membuat beberapa orang “rela” menyontek demi nilai yang tinggi, korupsi demi harta yang banyak, menyuap demi kedudukan yang tinggi, main dukun demi mendapatkan pasangan yang menawan. Mungkin. Dan ini memang pernah terjadi. Sering? Mungkin 

Fenomena lainnya adalah ketika masyarakat memiliki paradigma yang membagi pelajaran menjadi beberapa strata, yaitu pelajaran MIPA pada strata atas, pelajaran moral, kebangsaan, dan bahasa pada strata menengah, dan pelajaran seni dan sosial pada strata bawah. Sehingga seakan-akan anak-anak yang menonjol pada pelajaran MIPA atau ilmu-ilmu eksak dipandang lebih pintar dibanding anak-anak lain yang menonjol di bidang lain. Bekerja sebagai seorang arsitek dilihat lebih berkelas dibanding sebagai seorang pemain musik. Padahal, setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Ada nilai lebih pada setiap potensinya. Paradigma membagi pelajaran ke dalam strata atas, menengah, dan bawah ini pun dapat terbntahkan dengan melihat kondisi riil pada kehidupan sehari-hari. Jika benar bahwa seseorang yang memiliki kemampuan mendalam pada pelajaran strata atas adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dibanding yang lainnya, maka seharusnya para professor Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia menempati strata tertinggi dalam kehidupan manusia. Namun, kenyataanya ternyata tidaklah demikian, bukan?

Sebenarnya masih ada fenomena lain yang bisa dijabarkan, namun saya rasa bisa kita bahas dilain kesempatan. Pada akhirnya, dari fenomena-fenomena tersebut saya ingin sedikit menggambarkan tentang bagaimana Islam memandang pendidikan yang baik terhadap manusia.
Banyak dan uniknya keinginan, impian, dan cita-cita manusia sangat dihargai dan dihormati dalam Islam. Itu sebabnya Islam tidak memandang sebagai apa dirimu, namun pada apa niatmu dan bagaimana perilakumu. Islam membebaskan umatnya untuk menjadi apapun dengan batasan semua itu untuk mencari ridho Allah, sesuai dengan syariat Islam, dan tidak ada kezholiman bagi manusia di dalamnya.

Terkait dengan sulitnya pelajaran yang kemudian sering merubah orientasi kita. Islam mengajarkan terkait dengan prinsip kebermanfaatan. Sulitnya pelajaran akan tetap ditekuni ketika seseorang memegang prinsip kebermanfaatan itu. Tokoh-tokoh Islam yang menjadi rujukan bagi dunia ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Batuta, Al Khawarizm, dll adalah orang-orang yang menguasai Al-Quran sebelum mereka menguasai ilmu-ilmu sesuai bidangnya, seperti kedokteran, astronomi, matematika, filosofi, dll. Hal ini menyebabkan mereka tangguh dalam menuntut ilmu dan menjadi para ahli dibidangnya. Sulitnya proses pembelajaran, manjadi tak terasa dibanding dengan besarnya kebermanfaatan ilmu tersebut bagi umat. Itulah yang membuat mereka bertahan untuk tekun mempelajari ilmu-ilmu tersebut.

Soal penghargaan, kita bisa melihat bagaimana seorang Zaid yang masih belasan tahun diamanahkan menjadi pimpinan perang yang pasukannya merupakan para sahabat-sahabat senior Rasulullah saw. Kita juga tahu tentang penerimaan ide dari Salman Al-Farisy untuk membuat parit dalam perang khandaq. Walaupun ide itu datang dari seorang perantau yang jauh dan baru saja memeluk Islam. Bilal yang mendapat penghargaan sebagai muadzin walau beliau hanya seorang mantan budak berkulit hitam. Penghargaan Islam terhadap manusia adalah pada ketakwaannya, bukan pada kedudukan duniawinya.

Sebenarnya, nilai-nilai spiritual dalam Islam akan sangat mendorong pada kesuksesan pendidikan nasional. Pendidikan Agama Islam dengan porsi yang seimbang bertujuan untuk menghapuskan dikotomi antara ilmu agama dan dan ilmu duniawi. Nilai-nilai spiritual Islam akan terinternalisasi dalam diri peserta didik sehingga sikap mental mereka dalam menuntut ilmu akan lebih kuat, tangguh, dan memiliki orientasi yang jelas. Sebab, setiap proses menuntut ilmu akan diniatkan sebagai sebuah prosesi ibadah kepada Allah.
Terakhir, saya tutup tulisan ini dengan sebuah sajak dari Bunda Theresa yang menurut saya menginspirasi bagi kita semua yang sedang berproses dalam menuntut ilmu

People are often unreasonable, illogical, and self-centered ; forgive them anyway
If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives ; be kind anyway
If you are successful, you will win some false friends and some true friends ; succeed anyway
If you are honest and frank, people may cheat you; be honest and frank anyway
What you spend years building, someone could destroy overnight; build anyway
If you find serenity and happiness, they may be jealous; be happy anyway
Give the world your best anyway
You see, in the final analysis, it’s always between you and God;
It never between you and them anyway
-By Mother Theresa-

Bersamalah Walau Berbeda

 

Image

Hidup ditengah masyarakat majemuk menuntut kita memiliki sikap yang baik dalam bertindak dan mengambil keputusan. Sekelompok manusia yang memiliki banyak karakter membuat kita harus pandai menempatkan diri. Komunitas yang beragam sering kali membuat konflik menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindari. Tapi tak apa,  konflik itu baik jika berada pada batas-batas tertentu. Itu sebabnya kita sering mendengar istilah manajemen konflik. Artinya, konflik diasosiasikan kepada sesuatu yang harus diatur, dikontrol, dikendalikan, diarahkan menjadi stimulus perubahan yang baik. Begitulah keberagaman. Hal yang sering dikonotasikan indah, namun cukup sulit membuat harmonisasinya.

Kita menemukan banyak hal dalam keberagaman. Beragam manusia, beragam pemikiran, beragam sikap, beragam rasa, beragam ekspresi, dan beragam hal lainnya. Mungkin itulah yang pada akhirnya membuat persinggungan-persinggungan yang berujung konflik itu tak bisa terelakkan.

Membayangkan keberagaman yang harmonis tentu sangat indah dan menenangkan jiwa. Perbedaannya membuat warna dalam kehidupan. Keberlainannya membuat ukiran makna nan syahdu. Dan ketaksamaannya membuat mozaik itu bak patri penghias istana. Sempurna. Maka baiklah perbedaan itu.

Namun, sungguh disayangkan. Tak semua perbedaan berujung pada harmoni indah sebagaimana takdir penciptaannya. Beberapa berubah menjadi pecahan kaca yang menusuk sukma. Beberapa bertransformasi menjadi ladang ranjau kehidupan. Dan beberapa lainnya bermetamorfosis menjadi hal-hal lain yang memilukan.

 Jika keindahan hasilnya, maka tak perlulah kita bahas itu. Biar saja itu terjadi dalam kuasa Tuhan Sang Penggerak  Alam. Sebab tak ada hal buruk akibat harmoni indah kekuasaan Tuhan. Kini yang perlu kita perhatikan adalah keburukan yang muncul akibat perbedaan. Namun sebelumnya, satu pertanyaan mengusik relung sanubari terdalam ini: benarkah perbedaan membuat keburukan? Atau manusia saja yang kadang tak mampu melihat kebaikan yang ada di hadapannya?

Aku tak tahu bagaimana membahasnya. Tapi ada satu cerita yang mencerahkan bagiku. Seperti ini :

Ada satu orang baik yang sedang berlayar menuju suatu pulau impian di sebrang samudra yang luas. Dia tidak sendiri di perahu yang ia gunakan untuk berlayar. Di dalamnya ada banyak orang yang juga ingin menuju pulau tersebut. Ada si pemarah, si culas, penghianat, pendendam, sang pendengki, dan seorang kikir. Sangat bertentangan dengan satu orang baik ini. Keadaannya diperparah dengan kondisi kapal yang tidak layak. Bahan kapal yang terbuat dari kayu yg lapuk, bau kotoran yang menyeruak di seisi kapal, dan kemudi yang macet karena tak pernah diurus. Jika orang baik ini merasa tidak nyaman dengan kondisi ini, itu sangat wajar. Bisa saja ia lompat keluar kapal, lalu ia mulai berenang menuju pulau impiannya tersebut. Tapi coba renungkan ini. Sesaat mungkin iya merasa segar dengan sejuknya air laut, namun  berapa lama ia sanggup untuk berenang menyebrangi samudra. Sesaat mungkin ia bisa bernafas lega dengan menghirup udara terbaik di atas air laut dan terbebas dari bau kotoran yang menyelimuti kapal, namun apakah iya sanggup bertahan dikala dinginnya malam menyelimuti lautan luas. Mungkin sesaat ia bisa berenang lebih cepat daripada kapal dari kayu lapuk itu, namun apakah ia bisa menahan lapar di tengah samudra seorang diri. Sesaat mungkin itu menyenangkan, tapi itu tak akan lama.

Bagaimana bila seorang baik ini mulai berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di kapal tersebut. Sekali pun mereka berbeda, bertentangan, dan tak sejalan dengan kebaikan, namun mereka tetaplah manusia yang (pasti) memiliki potensi kebaikan di dalam dirinya. Jika seorang baik ini bisa memulai untuk mengerti dan memahami mereka, mungkin kondisinya akan lebih baik. Jika seorang baik ini mau mulai membersihkan kapal sedikit demi sedikit, mungkin bau kotoran itu akan hilang. Jika seorang baik ini mau mengoles kemudi dengan sedikit oli, mungkin itu bisa kembali berfungsi. Jika ia bertahan di dalam kapal itu saja, itu akan menjadi lebih baik.

Bersamalah walaupun kita berbeda.

Bahkan orang-orang bodoh yang berkelompok bisa lebih kuat dibanding orang pintar seorang diri.

Tujuh Keajaiban Dunia

Suatu pagi, di Masjid Al-Qolam, Islamic Centre Iqro, saya mendengar seorang Ustaz sedang memberikan sebuah renungan singkat kepada para murid SDIT Iqro…

Pagi hari di suatu kelas, seorang guru yang memberikan tugas kepada murid-muridnya. Sang guru meminta para murid untuk mengeluarkan selembar kertas dan menyiapkan pensil. Kemudian sang guru meminta para murid untuk menuliskan 7 Keajaiban Dunia yang mereka tahu di kertas selembar tadi. Selang beberapa menit, ketika waktu yang diberikan dirasa cukup, sang guru meminta para murid untuk segera mengumpulkan kertas berisi 7 Keajaiban Dunia itu ke mejanya. Satu per satu para murid menuju meja sang guru untuk mengumpulkan tugas mereka. Di antara para murid, ada beberapa yang mengantri untuk mengumpulkan, namun ada juga yang begitu bersemangat sehingga ia menerobos kerumunan temannya yang berada di depan meja sang guru. Tapi, ada pemandangan berbeda di sudut depan kelas itu. Seorang siswi berjilbab masih duduk dengan tenang di atas kursinya yang berada di pojok kiri kelas. Tampaknya ia ragu untuk mengumpulkan tugasnya. Namun, ketika teman-temannya yang lain telah mengumpulkan tugas mereka, tak ada pilihan lain bagi gadis kecil pemalu ini kecuali turut mengumpulkan tugas yang ia kerjakan. Dengan langkah yang berat ia berjalan menuju meja gurunya, dan dengan ragu ia menyodorkan kertas yang ia pegang kepada gurunya. Diterimalah kertas pekerjaannya itu oleh sang guru yang langsung menggabungkan kertas si gadis pemalu tadi dengan tumpukan kertas lain milik teman-temannya. Usai semua murid mengumpulkan tugas, sang guru mengakhiri pelajaran hari itu dan memperbolehkan para murid untuk pulang.

Malam hari, di rumah sang guru. Dengan semangat sang guru memeriksa hasil pekerjaan murid-muridnya atas tugas menulis 7 Keajaiban Dunia yang diberikannya pagi tadi di sekolah. Satu demi satu lembaran kertas itu ia baca dan ia periksa. Semua lembaran yang ia periksa berisi nama-nama tempat atau bangunan yang memang merupakan bagian dari 7 Keajaiban Dunia, seperti Taj Mahal, Tembok Besar China, Piramida, dll. Sang guru memberi tanda check list pada setiap kertas yang benar berisi tentang 7 Keajaiban Dunia. Sejauh ini, semua kertas persis berisi hal yang sama, jika ada perbedaan, itu hanya pada posisi penulisannya. Akhirnya sang guru mengambil kertas terakhir yang ada di hadapannya. Ya, kertas itu milik gadis kecil pemalu yang duduk di pojok depan kelas. Sang guru terdiam ketika memeriksa kertas milik gadis pemalu itu. Kertas itu betuliskan “Tujuh Keajaiban Dunia : bisa melihat, bisa mendengar, bisa berbicara, bisa menyentuh, bisa menyayangi, bisa dicintai, dan bisa tertawa”.Kemudian sang guru menghela nafasnya dalam-dalam, setelah itu memberi tanda check list pada kertas si gadis kecil pemalu itu.

Begitulah kisah ini mengajarkan kepada kita, bahwa tak perlulah kita menjelajah ke ujung dunia untuk melihat sebuah keajaiban. Sebab Allah telah menebarkan begitu banyak keajaiban di seluruh alam ini. Hanya saja, terkadang mata ini terpejam sehingga tak dapat melihatnya, telinga ini terkunci sehingga tak mampu mendengarnya, mulut ini membisu sehingga tak bisa mengakuinya, dan hati ini beku sehingga tak mampu meyakininya.

Wallahua’lam.

Manusia Pasti Rela

Jumat, 23 November 2012

Hari Jumat menjadi hari yang sangat spesial beberapa waktu terakhir ini. Sebab pada hari ini setiap pekannya adalah waktu saya untuk berkumpul serta berbagi semangat dan kehangatan ukhuwah dengan saudara-saudara saya di kampus IPB, Bogor. Seusai ber-muwajahhah dengan mereka, saya pulang menuju rumah di Bekasi.

Perjalanan pulang kali ini agak berbeda dari biasanya. Longsor yang terjadi di daerah Cilebut telah memutus jalur kereta api Cilebut – Bogor. Sehingga jalur yang beroprasi hanya sampai Stasiun Bojong Gede. Karena kondisi tersebut, maka rute perjalan pulang saya agak sedikit berubah. Yang biasanya dari kampus saya menuju Stasiun Bogor untuk menggunakan jasa kereta listrik menuju Jakarta, kali ini saya harus menuju Stasiun Bojong Gede. Cukup jauh, durasi perjalanan dari kampus IPB di Dramaga sampai Stasiun Bojong Gede hampir dua jam, satu jam empat puluh tujuh menit tepatnya waktu itu. Hampir dua kali lipat dari durasi perjalanan dari kampus ke Stasiun Bogor yang rata-rata perjalanan malam hari hanya memakan waktu sekitar lima puluh lima menit. Bukan hanya durasi waktu yang berlipat dua, ongkos pun demikian. Untuk sampai Stasiun Bogor dari Kampus IPB di Dramaga hanya menghabiskan Rp4.000.00 (dua kali naik angkot), sedangkan untuk menuju Stasiun Bojong Gede menghabiskan ongkos sebesar Rp12.000,00

Malam itu Bogor diguyur hujan yang cukup deras. Namun, perjalanan pulang malam itu terasa hangat sebab saya ditemani seorang kawan lama, kawan seperjuagan semasa sma dulu, Sri Subandoro, AGB 48, yang tanpa janji dipertemukan di terminal Bus Pakuan. Obrolan seputar kondisi masing-masing membuat kami tak terasa telah dekat dengan Stasiun Bojong Gede. Namun, saat itu kondisi jalan sangat macet.

“Ga tau kenapa, dari semalem macet total di sini. Mungkin gara-gara semua penumpang kereta turun di Bojong.” ujar supir angkot yang saya tumpangi.

Melihat kondisi demikian, saya dan teman saya tadi memutuskan untuk turun dan berjalan kaki menuju stasiun. Kondisi jalanan malam itu sungguh benar-benar padat. Bahkan untuk saya yang berjalan kaki saja sangat sulit untuk menerobos kemacetan jalan itu. Parahnya, saya sampai harus diam di tempat karena memang tidak bisa lagi berjalan kemanapun. Sungguh macet luar biasa.

Tapi, justru di sinilah momen itu hadir. Momen yang saya tidak tunggu sebenarnya, namun momen itu sering kali muncul dalam perjalan pulang saya dari kampus. Momen di mana Allah menunjukkan sebuah “pelajaran” bagi hamba-Nya.

Di antara cahaya lampu kendaraan yang sangat menyilaukan di malam gelap nan mendung di atas sana. Di tengah gemuruh motor dan angkutan kota yang membahana meredam suara benturan air hujan yang menghujam bumi. Di sisi-sisi trotoar, di tengah jalan, sampai ke sebrangnya, penuh dengan manusia-manusia bumi yang dengan cekatan melangkah berusaha menghindar dari serbuan air hujan yang tampak makin deras saja. Wajah-wajah penuh kelelahan menjadi pemandangan yang mendominasi di depan stasiun malam itu. Tubuh-tubuh lesu memenuhi jalanan di sisi stasiun. Hanya beberapa yang terlihat telah menyiapkan payung untuk menahan serangan hujan, selebihnya, tak takut dengan ancaman air yang datang bergerombol itu. Mereka hantam saja hujan itu dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Mereka rela. Manusia pasti rela.Mereka, para penumpang KRL Commuter Line Jakarta – Bogor, mayoritas adalah para pekerja. Mereka lalui senti demi senti jalur rel kereta Bogor-Jakarta, Jakarta-Bogor paling tidak lima kali dalam sepekan, bahkan lebih. Ketika pagi hari mereka berangkat, mereka tahu pasti sore atau malam nanti mereka akan kembali dengan rasa lelah yang mengikuti. Ketika pagi hari mereka terpaksa bangun dengan susah payah karena istirahat yang dirasa masih kurang, mereka pun tahu bahwa nanti malam mereka akan dengan sangat mudah terlelap karena letih yang kini sudah mereka anggap ‘biasa’. Namun, mereka rela. Manusia pasti rela.

Mereka rela menjalankan rutinitas melelahkan itu, bahkan hingga berpuluh-puluh tahun, karena mereka punya tujuan, karena mereka punya cita-cita, karena mereka punya impian, atau karena mereka punya cinta. Mereka rela berlelah-lelah karena ada keluarga yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka rela berletih-letih sebab ada masa depan yang mereka perjuangkan. Mereka rela karena mereka punya harapan. Mereka rela. Manusia pasti rela.

Suasana malam itu menjadi sangat haru bagi saya. Sangat menyentuh. Saya punya tujuan, saya punya cita, saya punya impian, tapi, sudahkah saya rela berlelah-lelah seperti mereka berlelah-lelah malam itu? Sudahkah saya rela berletih-letih seperti mereka berletih-letih sepanjang usia di atas jalur Jakarta-Bogor?

 

Muhasabah pribadi malam itu. Hatiku menangis membasahi rongga-rongga kegersangan jiwa yang lama dilanda kemarau seperti rintik hujan yang membasahi  rel ganda itu sepanjang Bogor-Jakarta.

Seporsi Hikmah dalam Dua Bungkus Nasi Goreng

Bismillahi…

Alhamdulillahi robbil ‘alamiin. Allahumma sholli ‘ala Muhammad.

 

Beberapa malam yang lalu, Sabtu malam pekan lalu tepatnya, kakak minta saya untuk menemaninya ke bengkel sepeda motor.

Sebagai adik yang baik (ciaelah) saya temeninlah kakak ke bengkel motor.

Di bengkel motor, sambil memperhatikan sang montir ngobrak-ngabrik motor, mata saya menyapu sekeliling.

Sampai di sudut tertentu, lensa mata saya menangkap bayangan suatu benda yang sangat menarik.

Sebuah benda berbentuk agak kotak, diterangi lampu patromak yang cukup menyilaukan, di sisinya terdapat kompor.

Di tengah kotak tersebut terlihat telur-telur berjajar rapi, beberapa sayuran juga terlihat dari kaca sampingnya.

Taukah kalian benda apa itu? Gerobak nasi goreng! 😀

Betapa senangnya saya melihat gerobak nasi goreng haha maklum saat itu sedang sangat laper.

Tanpa pikir panjang langsung saja saya hampiri gerobak nasi goreng itu.

Setelah sampai di depan gerobaknya, terlihatlah sesosok lelaki muda mengenakan kupluk sedang asyik mengolah nasi goreng.

Tanpa basa-basi saya langsung memesan “Bang, nasi goreng dua bungkus ya, pedes.”

Namun tak ada respon dari si abang. Biarlah, mungkin dia sedang fokus mengolah nasi goreng pesanan mba-mba yang juga saya lihat sedang mengamati nasi goreng yang sedang diolah itu.

Selesai sang abang membuatkan pesanan mba tadi, barulah dia nengok ke arah saya (benerkan pikiran saya, dia memang sedang fokus mengolah nasi goreng tadi) dengan raut muka yang seakan-akan bertanya “Mau pesan apa, Mas?”

Luar biasa sekali bukan abang nasi goreng ini, hanya dengan “raut muka” ia bisa bertanya kepada pembelinya.

Dengan segera (semi refleks juga kayanya karena memang sudah laper banget) saya mengulangi ucapan saya yang tadi “Bang, nasi goreng dua bungkus ya, pedes” sambil menunjukkan formasi jari telunjuk dan jari manis kanan yang membentuk huruf “V”

Namun, responnya aneh. Si abang langsung memalingkan wajahnya lalu dengan sigap mengolah nasi goreng.

Awalnya agak ragu juga, apakah yang sedang dia olah adalah nasi goreng pesanan saya atau bukan. Tapi ya sudahlah, saya tunggu saja.

Nasi goreng selesai, segera ditambahkan mentimun dan acar sebagai pelengkap. Dibungkus dengan rapi. Dimasukkan ke dalam plastik bersama dua bungkus kerupuk yang disajikan terpisah. Lalu, disodorkan kepada saya.

Lagi-lagi, tanpa basa-basi “ini Mas nasinya” atau “ini Mas, pesanannya sudah jadi” atau sekadar “nih Mas”

Yasudahlah, rasa lapar ini sudah mengalihkan duniaku (lebay – becanda juga).

Setelah membayar, saya segera kembali ke bengkel motor tadi. Ternyata sang montir pun baru saja menyelesaikan pekerjaannya membenahi motor kakak.

Tidak lama kemudian, saya pulang.

Sampai di rumah, dengan gerakan yang sangat cepat saya menuju dapur, mencuci tangan, mengambil sendok dan segelas air.

Lalu menuju ruang keluarga, membuka sebungkus nasi goreng, membaca doa, menyendoknya, lalu segera memasukkannya ke dalam mulut.

Luar biasa, ternyata rasa pertama yang saya rasakan adalah… PANAS!

Belajar dari pengalaman, untuk suapan kedua tidak langsung saya makan, saya diamkan dulu beberapa saat sampai dirasa tidak terlalu panas, baru saya makan.

Alhamdulillah lebih nikmat kali ini. Tapi, ko ga pedes ya? Padahal tadi kan saya pesennya pedes, udah bilang dua kali padahal. (agak kecewa, tapi yasudahlah, walapun ga pedes tapi rasanya juga enak)

Lalu, ajaib, tiba-tiba nasi goreng di hadapan saya hilang! (baca: habis)

Alhamdulillah.

 

Bukan kisah ini yang menarik, sungguh bukan.

Beberapa hari kemudian, barulah saya ketahui dari tetangga bahwa penjual nasi goreng itu ternyata adalah seorang tuna rungu dan tuna wicara.

Subhanallah. Seketika ada rasa salut di hati ini terhadap si abang nasi goreng.

Dengan segala keterbatasannya ia tetap berjuang meniti setapak demi setapak takdir hidupnya.

Barulah saya sadari mengapa saat itu tidak ada respon berarti yang ditunjukkan si abang ketika saya memesan nasi goreng.

Dan saya mengerti juga kenapa nasi goreng yang saya makan tidak pedas seperti yang saya pesan.

Ternyata tetangga saya yang sudah cukup sering membeli nasi goreng di tempat si abang (maklum, walaupun seperti itu keadaannya namun memang rasa nasi gorengnya enak) punya trik khusus agar pesanan sesuai dengan keinginan kita, yaitu apabila ingin pedas kita tinggal tunjuk sambal yang ada di sisi kompor, kalau mau pake sayuran tinggal tunjuk sayuran yang ada di gerobak. Intinya harus dengan isyarat sebab si abang agak kesulitan untuk mendengar. Bukan tidak bisa sama sekali, tapi kalau mau di dengar kita harus berbicara ekstra keras. Tentu tidak enak juga kan didengar oleh orang sekitar jika kita berbicara terlalu keras.

 

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah pembelian nasi goreng ini :

Dari sisi si abang. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, kekurangan bukan alasan kita untuk berhenti berusaha, keterbatasan tidaklah boleh menjadikan kita putus asa dari rahmat Sang Pengasih, dan ketidaksempurnaan janganlah menjadi sebuah pelegalan atas ketiadaan upaya dalam menjalani kehidupan ini. Si abang telah mengajarkan kita betapa hidup tertalu mahal untuk kita lewatkan dengan sia-sia atas dasar kelemahan.

 

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87).

 

Dari sisi saya. Begitulah hidup, tidak selalu apa yang kita pesan, apa yang kita rencanakan dengan matang, apa yang kita lakukan denga baik, apa yang kita upayakan dengan maksimal akan memberikan hasil sesuai dengan harapan kita. Ketidaksesuaian ini bisa jadi lebih baik, namun bisa juga lebih buruk. Terkadang, ketidaksesuaian kenyataan ini bukan karena kita tidak matang dalam perencanaan, bukan karena kita tidak maksimal dalam berupaya, bukan pula karena orang lain yang ingin menghalangi kita atas harapan-harapan kita, namun karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan. Allah lebih tahu apa yang lebih baik bagi kita

 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

 

Ya, begitulah Allah memberi pelajaran kepada manusia

Begitu bermakna, walau hanya dari dua bungkus nasi goreng yang tidak sesuai pesanan.

Subhanallah.

 

Wallahua’lam.