Ekspektasi Nilai Diri

Ketika kita melihat orang-orang sukses tentu akan ada perasaan ingin sama seperti mereka. Sama suksesnya dengan mereka. Sama bahagianya dengan mereka. Sesaat diri ini akan termotivasi. Penuh gairah untuk bertranformasi guna memantaskan diri dalam kesuksesan. Namun, ketika berhadapan kembali dengan realitas hidup yang kita jalani, semua buyar. Impian dan harapan kesuksesan seakan mimpi yang tak akan pernah bisa tergapai oleh diri. Ekspektasi terhadap mimpi tak sejalan dengan ekspektasi terhadap nilai diri.
Teringat akan sebuah konsep ekspektasi, ekspektasi terhadap nilai mata uang tepatnya. Ternyata ekspektasi cukup menentukan nilai mata uang suatu Negara di masa yang akan datang. Kita ambil contoh antara rupiah dan dolar Amerika. Jika para ekonom berekspektasi bahwa nilai rupiah akan melemah terhadap dolar di masa depan maka para pemegang rupiah akan dengan segera menukarkan uang rupiahnya ke dalam dolar sesegera mungkin dengan harapan ketika nanti nilai rupiah melemah terhadap dolar ia akan mendapat keuntungan dari penukarannya sekarang. Maka hal itu otomatis akan membuat peredaran rupiah di masyarakat berkurang. Berkurangnya jumlah uang yang beredar di masyarakat akan berakibat pada turunnya nilai rupiah akibat ketidakpercayaan masyarakat yang langsung menukarkan uang rupiahnya ke dolar. Artinya, ekspektasi terhadap jatuhnya nilai rupiah di masa depan justru menjadi stimulan yang menjatuhkan nilai rupiah saat ini.
Begitu juga dengan ekspektasi kita terhadap diri. Persangkaan kita terhadap nilai diri di masa depan akan memengaruhi nilai diri kita saat ini. Keraguan akan nilai dan kemampuan-kemampuan kita untuk hebat di masa depan akan berdampak pada melemahnya semangat juang kita saat ini sebab kita beranggapan bahwa bagaimanapun diri ini tak akan bisa untuk menjadi hebat di masa depan. Cukup banyak orang yang berfikir “ah sudahlah tak usah terlalu ngotot mengejar sesuatu, toh sama saja, sudah takdir kita menjadi orang biasa”. Akhirnya orang-orang tersebut tak pernah serius dalam mengerjakan apa yang dihadapinya. Dan menjadi logis akhirnya mengapa orang-orang ‘bawah’ tetap menjadi orang ‘bawah’ di masa depan ketika ia tak mau merubah cara berfikir tentang dirinya. Begitupun dengan orang-orang ‘atas’ yang sepertinya memang sudah garis hidup keluarga mereka untuk menjadi orang ‘atas’. Padahal tidak demikian. Orang yang kini berada pada kemakmuran melihat dirinya mampu untuk sesuatu besar di masa depan, itu sebab ia yakin akan bisa meraihnya sehingga sikap dan perilakunyapun menunjukkan keyakinan itu. Berbeda dengan orang ‘bawah’ yang melihat ada tembok besar yang menghalangi dirinya dengan kesuksesan. Padahal tembok itu tidak pernah benar-benar ada. Namun, mereka yang pesimis semakin mengokohkan keberadaan tembok tersebut dengan memberinya nama “nasib’.
Maka merubah cara pandang kita terhadap nilai diri di masa depan akan merubah sikap dan perilaku kita di masa kini. Dan itu berarti merubah banyak hal dalam hidup kita.

      “Tak apalah kau tak yakin dengan dirimu, asal kau yakin dengan Tuhanmu.
      Tak apa kau tak yakin dengan kemampuanmu, asal kau yakin dengan kemampuan Tuhanmu untuk memampukanmu.
      Tak apa kau tak yakin dengan hasil usahamu, asal kau yakin dengan segala kebaikan taqdir dan ketetapan Tuhanmu.
      Sebab Tuhanmu telah lebih dahulu percaya kepadamu, sebelum kau percaya dengan-Nya.”

– Salim Pratama –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s