Aku Dididik Seperti Ini

Seseorang sangat antusias ingin menjadi dokter. Seorang lainnya begitu bersemangat menjadi dosen. Ternyata kawannya ada yang begitu berminat menjadi pembalap. Dan ternyata beberapa orang tua yang kini bekerja sebagai operator mesin pabrik dulunya bercita-cita menjadi tentara. Sangat unik memang keinginan manusia. Namun, lebih unik lagi jalan hidup si manusia itu. Kemauan, cita-cita, dan impian yang pernah terpatri banyak yang kemudian menguap seiring memanasnya udara bumi yang mereka tinggal di dalamnya. Lalu, salahkah itu? Tidak juga.

Apa yang terpapar dalam tulisan ini bukanlah sebuah teori yang bisa menjadi rujukan. Bukan pula sebuah metode yang bisa memformulasikan variaabel-variabel kehidupan guna menuju kesuksesan. Ini hanya sebuah refleksi sederhana tentang mengapa seseorang perlu mengerti untuk apa ia melakukan sebuah proses pendidikan dan pembelajaran.

Saya ingat sekali dulu ada seorang teman yang punya cita-cita menjadi seorang dokter. Seiring berjalannya waktu, ketika awal SMA, cita-citanya berubah menjadi seorang kontraktor. Alasannya karena pelajaran Fisika lebih mudah dibandingkan Biologi, katanya. Lalu saat di universitas, ternyata ia mengambil jurusan Manajemen. Kontraktornya? Ternyata Fisika tidak sesederhana yang ia perkirakan. Impian itu kembali menguap.

Fenomena di atas mungkin sering kita temui terjadi pada teman-teman di sekitar kita atau mungkin pada diri kita sendiri? Yaa, begitulah adanya. Sering kesulitan dalam proses pendidikan menyebabkan kita menggeser impian kita, bahkan tak jarang seakan “menurunkan standar diri” kita. Bagi beberapa orang, mengganti impian yang awalnya menjadi dokter dengan impian menjadi kontraktor diawali dengan pemikiran tentang sulitnya belajar hal-hal yang penting bagi dokter, Biologi misalnya. Bukan karena pemikiran bahwa kontraktor lebih bisa membuatnya bermanfaat bagi banyak orang. Akhirnya, impian itu tergeser. Namun, pada ujungnya Biologi tetaplah sulit. Sedangkan Fisika pun tak bertambah mudah dengan pilihannya itu. Sehingga kembali ia banting stir dengan memilih program studi yang jauh dari Biologi dan Fisika. Bertambah mudahkah hidupnya? Tidak juga. Setiap hal pasti punya titik menantangnya tersendiri. Jika kita tak mampu manangkap pembelajaran di sana, maka hidup kita akan tidak jelas, kehilangan orientasi, dan hasilnyapun akan seadanya.

Fenomena lain tentang pendidikan adalah mengenai penghargaan atas kebaikan. Sudahkah itu optimal? Jika ada seorang mahasiswa yang sudah belajar dengan kemampuan yang ia miliki, kemudian ketika ujian dilaksanakan ia melakukannya dengan jujur, namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Nilainya dibawah standar. Lalu, kira-kira bentuk penghargaan seperti apa yang ia dapatkan untuk usahanya dalam belajar? Penghargaan apa yang ia dapat untuk kejujurannya dalam ujian?

Sebenarnya tidak akan menjadi masalah yang begitu berat ketika seseorang mendapatkan nilai kecil naumun ia tetap dihargai. Sebab, penghargaan, pengakuan, dan penghormatan merupakan kebutuhan dasar manusia yang secara hakikat perlu terpenuhi. Munculnya keinginan seseorang untuk mendapatkan nilai yang baik, harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, pendamping yang menawan, kehidupan yang baik, salah satunya adalah karena ada penghargaan, pengakuan, dan penghormatan dalam setiap pencapaian tersebut. Mungkin, ini juga yang pada akhirnya membuat beberapa orang “rela” menyontek demi nilai yang tinggi, korupsi demi harta yang banyak, menyuap demi kedudukan yang tinggi, main dukun demi mendapatkan pasangan yang menawan. Mungkin. Dan ini memang pernah terjadi. Sering? Mungkin 

Fenomena lainnya adalah ketika masyarakat memiliki paradigma yang membagi pelajaran menjadi beberapa strata, yaitu pelajaran MIPA pada strata atas, pelajaran moral, kebangsaan, dan bahasa pada strata menengah, dan pelajaran seni dan sosial pada strata bawah. Sehingga seakan-akan anak-anak yang menonjol pada pelajaran MIPA atau ilmu-ilmu eksak dipandang lebih pintar dibanding anak-anak lain yang menonjol di bidang lain. Bekerja sebagai seorang arsitek dilihat lebih berkelas dibanding sebagai seorang pemain musik. Padahal, setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Ada nilai lebih pada setiap potensinya. Paradigma membagi pelajaran ke dalam strata atas, menengah, dan bawah ini pun dapat terbntahkan dengan melihat kondisi riil pada kehidupan sehari-hari. Jika benar bahwa seseorang yang memiliki kemampuan mendalam pada pelajaran strata atas adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dibanding yang lainnya, maka seharusnya para professor Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia menempati strata tertinggi dalam kehidupan manusia. Namun, kenyataanya ternyata tidaklah demikian, bukan?

Sebenarnya masih ada fenomena lain yang bisa dijabarkan, namun saya rasa bisa kita bahas dilain kesempatan. Pada akhirnya, dari fenomena-fenomena tersebut saya ingin sedikit menggambarkan tentang bagaimana Islam memandang pendidikan yang baik terhadap manusia.
Banyak dan uniknya keinginan, impian, dan cita-cita manusia sangat dihargai dan dihormati dalam Islam. Itu sebabnya Islam tidak memandang sebagai apa dirimu, namun pada apa niatmu dan bagaimana perilakumu. Islam membebaskan umatnya untuk menjadi apapun dengan batasan semua itu untuk mencari ridho Allah, sesuai dengan syariat Islam, dan tidak ada kezholiman bagi manusia di dalamnya.

Terkait dengan sulitnya pelajaran yang kemudian sering merubah orientasi kita. Islam mengajarkan terkait dengan prinsip kebermanfaatan. Sulitnya pelajaran akan tetap ditekuni ketika seseorang memegang prinsip kebermanfaatan itu. Tokoh-tokoh Islam yang menjadi rujukan bagi dunia ilmu pengetahuan seperti Ibnu Sina, Ibnu Batuta, Al Khawarizm, dll adalah orang-orang yang menguasai Al-Quran sebelum mereka menguasai ilmu-ilmu sesuai bidangnya, seperti kedokteran, astronomi, matematika, filosofi, dll. Hal ini menyebabkan mereka tangguh dalam menuntut ilmu dan menjadi para ahli dibidangnya. Sulitnya proses pembelajaran, manjadi tak terasa dibanding dengan besarnya kebermanfaatan ilmu tersebut bagi umat. Itulah yang membuat mereka bertahan untuk tekun mempelajari ilmu-ilmu tersebut.

Soal penghargaan, kita bisa melihat bagaimana seorang Zaid yang masih belasan tahun diamanahkan menjadi pimpinan perang yang pasukannya merupakan para sahabat-sahabat senior Rasulullah saw. Kita juga tahu tentang penerimaan ide dari Salman Al-Farisy untuk membuat parit dalam perang khandaq. Walaupun ide itu datang dari seorang perantau yang jauh dan baru saja memeluk Islam. Bilal yang mendapat penghargaan sebagai muadzin walau beliau hanya seorang mantan budak berkulit hitam. Penghargaan Islam terhadap manusia adalah pada ketakwaannya, bukan pada kedudukan duniawinya.

Sebenarnya, nilai-nilai spiritual dalam Islam akan sangat mendorong pada kesuksesan pendidikan nasional. Pendidikan Agama Islam dengan porsi yang seimbang bertujuan untuk menghapuskan dikotomi antara ilmu agama dan dan ilmu duniawi. Nilai-nilai spiritual Islam akan terinternalisasi dalam diri peserta didik sehingga sikap mental mereka dalam menuntut ilmu akan lebih kuat, tangguh, dan memiliki orientasi yang jelas. Sebab, setiap proses menuntut ilmu akan diniatkan sebagai sebuah prosesi ibadah kepada Allah.
Terakhir, saya tutup tulisan ini dengan sebuah sajak dari Bunda Theresa yang menurut saya menginspirasi bagi kita semua yang sedang berproses dalam menuntut ilmu

People are often unreasonable, illogical, and self-centered ; forgive them anyway
If you are kind, people may accuse you of selfish, ulterior motives ; be kind anyway
If you are successful, you will win some false friends and some true friends ; succeed anyway
If you are honest and frank, people may cheat you; be honest and frank anyway
What you spend years building, someone could destroy overnight; build anyway
If you find serenity and happiness, they may be jealous; be happy anyway
Give the world your best anyway
You see, in the final analysis, it’s always between you and God;
It never between you and them anyway
-By Mother Theresa-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s