Bersamalah Walau Berbeda

 

Image

Hidup ditengah masyarakat majemuk menuntut kita memiliki sikap yang baik dalam bertindak dan mengambil keputusan. Sekelompok manusia yang memiliki banyak karakter membuat kita harus pandai menempatkan diri. Komunitas yang beragam sering kali membuat konflik menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindari. Tapi tak apa,  konflik itu baik jika berada pada batas-batas tertentu. Itu sebabnya kita sering mendengar istilah manajemen konflik. Artinya, konflik diasosiasikan kepada sesuatu yang harus diatur, dikontrol, dikendalikan, diarahkan menjadi stimulus perubahan yang baik. Begitulah keberagaman. Hal yang sering dikonotasikan indah, namun cukup sulit membuat harmonisasinya.

Kita menemukan banyak hal dalam keberagaman. Beragam manusia, beragam pemikiran, beragam sikap, beragam rasa, beragam ekspresi, dan beragam hal lainnya. Mungkin itulah yang pada akhirnya membuat persinggungan-persinggungan yang berujung konflik itu tak bisa terelakkan.

Membayangkan keberagaman yang harmonis tentu sangat indah dan menenangkan jiwa. Perbedaannya membuat warna dalam kehidupan. Keberlainannya membuat ukiran makna nan syahdu. Dan ketaksamaannya membuat mozaik itu bak patri penghias istana. Sempurna. Maka baiklah perbedaan itu.

Namun, sungguh disayangkan. Tak semua perbedaan berujung pada harmoni indah sebagaimana takdir penciptaannya. Beberapa berubah menjadi pecahan kaca yang menusuk sukma. Beberapa bertransformasi menjadi ladang ranjau kehidupan. Dan beberapa lainnya bermetamorfosis menjadi hal-hal lain yang memilukan.

 Jika keindahan hasilnya, maka tak perlulah kita bahas itu. Biar saja itu terjadi dalam kuasa Tuhan Sang Penggerak  Alam. Sebab tak ada hal buruk akibat harmoni indah kekuasaan Tuhan. Kini yang perlu kita perhatikan adalah keburukan yang muncul akibat perbedaan. Namun sebelumnya, satu pertanyaan mengusik relung sanubari terdalam ini: benarkah perbedaan membuat keburukan? Atau manusia saja yang kadang tak mampu melihat kebaikan yang ada di hadapannya?

Aku tak tahu bagaimana membahasnya. Tapi ada satu cerita yang mencerahkan bagiku. Seperti ini :

Ada satu orang baik yang sedang berlayar menuju suatu pulau impian di sebrang samudra yang luas. Dia tidak sendiri di perahu yang ia gunakan untuk berlayar. Di dalamnya ada banyak orang yang juga ingin menuju pulau tersebut. Ada si pemarah, si culas, penghianat, pendendam, sang pendengki, dan seorang kikir. Sangat bertentangan dengan satu orang baik ini. Keadaannya diperparah dengan kondisi kapal yang tidak layak. Bahan kapal yang terbuat dari kayu yg lapuk, bau kotoran yang menyeruak di seisi kapal, dan kemudi yang macet karena tak pernah diurus. Jika orang baik ini merasa tidak nyaman dengan kondisi ini, itu sangat wajar. Bisa saja ia lompat keluar kapal, lalu ia mulai berenang menuju pulau impiannya tersebut. Tapi coba renungkan ini. Sesaat mungkin iya merasa segar dengan sejuknya air laut, namun  berapa lama ia sanggup untuk berenang menyebrangi samudra. Sesaat mungkin ia bisa bernafas lega dengan menghirup udara terbaik di atas air laut dan terbebas dari bau kotoran yang menyelimuti kapal, namun apakah iya sanggup bertahan dikala dinginnya malam menyelimuti lautan luas. Mungkin sesaat ia bisa berenang lebih cepat daripada kapal dari kayu lapuk itu, namun apakah ia bisa menahan lapar di tengah samudra seorang diri. Sesaat mungkin itu menyenangkan, tapi itu tak akan lama.

Bagaimana bila seorang baik ini mulai berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di kapal tersebut. Sekali pun mereka berbeda, bertentangan, dan tak sejalan dengan kebaikan, namun mereka tetaplah manusia yang (pasti) memiliki potensi kebaikan di dalam dirinya. Jika seorang baik ini bisa memulai untuk mengerti dan memahami mereka, mungkin kondisinya akan lebih baik. Jika seorang baik ini mau mulai membersihkan kapal sedikit demi sedikit, mungkin bau kotoran itu akan hilang. Jika seorang baik ini mau mengoles kemudi dengan sedikit oli, mungkin itu bisa kembali berfungsi. Jika ia bertahan di dalam kapal itu saja, itu akan menjadi lebih baik.

Bersamalah walaupun kita berbeda.

Bahkan orang-orang bodoh yang berkelompok bisa lebih kuat dibanding orang pintar seorang diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s