Manusia Pasti Rela

Jumat, 23 November 2012

Hari Jumat menjadi hari yang sangat spesial beberapa waktu terakhir ini. Sebab pada hari ini setiap pekannya adalah waktu saya untuk berkumpul serta berbagi semangat dan kehangatan ukhuwah dengan saudara-saudara saya di kampus IPB, Bogor. Seusai ber-muwajahhah dengan mereka, saya pulang menuju rumah di Bekasi.

Perjalanan pulang kali ini agak berbeda dari biasanya. Longsor yang terjadi di daerah Cilebut telah memutus jalur kereta api Cilebut – Bogor. Sehingga jalur yang beroprasi hanya sampai Stasiun Bojong Gede. Karena kondisi tersebut, maka rute perjalan pulang saya agak sedikit berubah. Yang biasanya dari kampus saya menuju Stasiun Bogor untuk menggunakan jasa kereta listrik menuju Jakarta, kali ini saya harus menuju Stasiun Bojong Gede. Cukup jauh, durasi perjalanan dari kampus IPB di Dramaga sampai Stasiun Bojong Gede hampir dua jam, satu jam empat puluh tujuh menit tepatnya waktu itu. Hampir dua kali lipat dari durasi perjalanan dari kampus ke Stasiun Bogor yang rata-rata perjalanan malam hari hanya memakan waktu sekitar lima puluh lima menit. Bukan hanya durasi waktu yang berlipat dua, ongkos pun demikian. Untuk sampai Stasiun Bogor dari Kampus IPB di Dramaga hanya menghabiskan Rp4.000.00 (dua kali naik angkot), sedangkan untuk menuju Stasiun Bojong Gede menghabiskan ongkos sebesar Rp12.000,00

Malam itu Bogor diguyur hujan yang cukup deras. Namun, perjalanan pulang malam itu terasa hangat sebab saya ditemani seorang kawan lama, kawan seperjuagan semasa sma dulu, Sri Subandoro, AGB 48, yang tanpa janji dipertemukan di terminal Bus Pakuan. Obrolan seputar kondisi masing-masing membuat kami tak terasa telah dekat dengan Stasiun Bojong Gede. Namun, saat itu kondisi jalan sangat macet.

“Ga tau kenapa, dari semalem macet total di sini. Mungkin gara-gara semua penumpang kereta turun di Bojong.” ujar supir angkot yang saya tumpangi.

Melihat kondisi demikian, saya dan teman saya tadi memutuskan untuk turun dan berjalan kaki menuju stasiun. Kondisi jalanan malam itu sungguh benar-benar padat. Bahkan untuk saya yang berjalan kaki saja sangat sulit untuk menerobos kemacetan jalan itu. Parahnya, saya sampai harus diam di tempat karena memang tidak bisa lagi berjalan kemanapun. Sungguh macet luar biasa.

Tapi, justru di sinilah momen itu hadir. Momen yang saya tidak tunggu sebenarnya, namun momen itu sering kali muncul dalam perjalan pulang saya dari kampus. Momen di mana Allah menunjukkan sebuah “pelajaran” bagi hamba-Nya.

Di antara cahaya lampu kendaraan yang sangat menyilaukan di malam gelap nan mendung di atas sana. Di tengah gemuruh motor dan angkutan kota yang membahana meredam suara benturan air hujan yang menghujam bumi. Di sisi-sisi trotoar, di tengah jalan, sampai ke sebrangnya, penuh dengan manusia-manusia bumi yang dengan cekatan melangkah berusaha menghindar dari serbuan air hujan yang tampak makin deras saja. Wajah-wajah penuh kelelahan menjadi pemandangan yang mendominasi di depan stasiun malam itu. Tubuh-tubuh lesu memenuhi jalanan di sisi stasiun. Hanya beberapa yang terlihat telah menyiapkan payung untuk menahan serangan hujan, selebihnya, tak takut dengan ancaman air yang datang bergerombol itu. Mereka hantam saja hujan itu dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Mereka rela. Manusia pasti rela.Mereka, para penumpang KRL Commuter Line Jakarta – Bogor, mayoritas adalah para pekerja. Mereka lalui senti demi senti jalur rel kereta Bogor-Jakarta, Jakarta-Bogor paling tidak lima kali dalam sepekan, bahkan lebih. Ketika pagi hari mereka berangkat, mereka tahu pasti sore atau malam nanti mereka akan kembali dengan rasa lelah yang mengikuti. Ketika pagi hari mereka terpaksa bangun dengan susah payah karena istirahat yang dirasa masih kurang, mereka pun tahu bahwa nanti malam mereka akan dengan sangat mudah terlelap karena letih yang kini sudah mereka anggap ‘biasa’. Namun, mereka rela. Manusia pasti rela.

Mereka rela menjalankan rutinitas melelahkan itu, bahkan hingga berpuluh-puluh tahun, karena mereka punya tujuan, karena mereka punya cita-cita, karena mereka punya impian, atau karena mereka punya cinta. Mereka rela berlelah-lelah karena ada keluarga yang menjadi tanggung jawab mereka. Mereka rela berletih-letih sebab ada masa depan yang mereka perjuangkan. Mereka rela karena mereka punya harapan. Mereka rela. Manusia pasti rela.

Suasana malam itu menjadi sangat haru bagi saya. Sangat menyentuh. Saya punya tujuan, saya punya cita, saya punya impian, tapi, sudahkah saya rela berlelah-lelah seperti mereka berlelah-lelah malam itu? Sudahkah saya rela berletih-letih seperti mereka berletih-letih sepanjang usia di atas jalur Jakarta-Bogor?

 

Muhasabah pribadi malam itu. Hatiku menangis membasahi rongga-rongga kegersangan jiwa yang lama dilanda kemarau seperti rintik hujan yang membasahi  rel ganda itu sepanjang Bogor-Jakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s