Seporsi Hikmah dalam Dua Bungkus Nasi Goreng

Bismillahi…

Alhamdulillahi robbil ‘alamiin. Allahumma sholli ‘ala Muhammad.

 

Beberapa malam yang lalu, Sabtu malam pekan lalu tepatnya, kakak minta saya untuk menemaninya ke bengkel sepeda motor.

Sebagai adik yang baik (ciaelah) saya temeninlah kakak ke bengkel motor.

Di bengkel motor, sambil memperhatikan sang montir ngobrak-ngabrik motor, mata saya menyapu sekeliling.

Sampai di sudut tertentu, lensa mata saya menangkap bayangan suatu benda yang sangat menarik.

Sebuah benda berbentuk agak kotak, diterangi lampu patromak yang cukup menyilaukan, di sisinya terdapat kompor.

Di tengah kotak tersebut terlihat telur-telur berjajar rapi, beberapa sayuran juga terlihat dari kaca sampingnya.

Taukah kalian benda apa itu? Gerobak nasi goreng! 😀

Betapa senangnya saya melihat gerobak nasi goreng haha maklum saat itu sedang sangat laper.

Tanpa pikir panjang langsung saja saya hampiri gerobak nasi goreng itu.

Setelah sampai di depan gerobaknya, terlihatlah sesosok lelaki muda mengenakan kupluk sedang asyik mengolah nasi goreng.

Tanpa basa-basi saya langsung memesan “Bang, nasi goreng dua bungkus ya, pedes.”

Namun tak ada respon dari si abang. Biarlah, mungkin dia sedang fokus mengolah nasi goreng pesanan mba-mba yang juga saya lihat sedang mengamati nasi goreng yang sedang diolah itu.

Selesai sang abang membuatkan pesanan mba tadi, barulah dia nengok ke arah saya (benerkan pikiran saya, dia memang sedang fokus mengolah nasi goreng tadi) dengan raut muka yang seakan-akan bertanya “Mau pesan apa, Mas?”

Luar biasa sekali bukan abang nasi goreng ini, hanya dengan “raut muka” ia bisa bertanya kepada pembelinya.

Dengan segera (semi refleks juga kayanya karena memang sudah laper banget) saya mengulangi ucapan saya yang tadi “Bang, nasi goreng dua bungkus ya, pedes” sambil menunjukkan formasi jari telunjuk dan jari manis kanan yang membentuk huruf “V”

Namun, responnya aneh. Si abang langsung memalingkan wajahnya lalu dengan sigap mengolah nasi goreng.

Awalnya agak ragu juga, apakah yang sedang dia olah adalah nasi goreng pesanan saya atau bukan. Tapi ya sudahlah, saya tunggu saja.

Nasi goreng selesai, segera ditambahkan mentimun dan acar sebagai pelengkap. Dibungkus dengan rapi. Dimasukkan ke dalam plastik bersama dua bungkus kerupuk yang disajikan terpisah. Lalu, disodorkan kepada saya.

Lagi-lagi, tanpa basa-basi “ini Mas nasinya” atau “ini Mas, pesanannya sudah jadi” atau sekadar “nih Mas”

Yasudahlah, rasa lapar ini sudah mengalihkan duniaku (lebay – becanda juga).

Setelah membayar, saya segera kembali ke bengkel motor tadi. Ternyata sang montir pun baru saja menyelesaikan pekerjaannya membenahi motor kakak.

Tidak lama kemudian, saya pulang.

Sampai di rumah, dengan gerakan yang sangat cepat saya menuju dapur, mencuci tangan, mengambil sendok dan segelas air.

Lalu menuju ruang keluarga, membuka sebungkus nasi goreng, membaca doa, menyendoknya, lalu segera memasukkannya ke dalam mulut.

Luar biasa, ternyata rasa pertama yang saya rasakan adalah… PANAS!

Belajar dari pengalaman, untuk suapan kedua tidak langsung saya makan, saya diamkan dulu beberapa saat sampai dirasa tidak terlalu panas, baru saya makan.

Alhamdulillah lebih nikmat kali ini. Tapi, ko ga pedes ya? Padahal tadi kan saya pesennya pedes, udah bilang dua kali padahal. (agak kecewa, tapi yasudahlah, walapun ga pedes tapi rasanya juga enak)

Lalu, ajaib, tiba-tiba nasi goreng di hadapan saya hilang! (baca: habis)

Alhamdulillah.

 

Bukan kisah ini yang menarik, sungguh bukan.

Beberapa hari kemudian, barulah saya ketahui dari tetangga bahwa penjual nasi goreng itu ternyata adalah seorang tuna rungu dan tuna wicara.

Subhanallah. Seketika ada rasa salut di hati ini terhadap si abang nasi goreng.

Dengan segala keterbatasannya ia tetap berjuang meniti setapak demi setapak takdir hidupnya.

Barulah saya sadari mengapa saat itu tidak ada respon berarti yang ditunjukkan si abang ketika saya memesan nasi goreng.

Dan saya mengerti juga kenapa nasi goreng yang saya makan tidak pedas seperti yang saya pesan.

Ternyata tetangga saya yang sudah cukup sering membeli nasi goreng di tempat si abang (maklum, walaupun seperti itu keadaannya namun memang rasa nasi gorengnya enak) punya trik khusus agar pesanan sesuai dengan keinginan kita, yaitu apabila ingin pedas kita tinggal tunjuk sambal yang ada di sisi kompor, kalau mau pake sayuran tinggal tunjuk sayuran yang ada di gerobak. Intinya harus dengan isyarat sebab si abang agak kesulitan untuk mendengar. Bukan tidak bisa sama sekali, tapi kalau mau di dengar kita harus berbicara ekstra keras. Tentu tidak enak juga kan didengar oleh orang sekitar jika kita berbicara terlalu keras.

 

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah pembelian nasi goreng ini :

Dari sisi si abang. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, kekurangan bukan alasan kita untuk berhenti berusaha, keterbatasan tidaklah boleh menjadikan kita putus asa dari rahmat Sang Pengasih, dan ketidaksempurnaan janganlah menjadi sebuah pelegalan atas ketiadaan upaya dalam menjalani kehidupan ini. Si abang telah mengajarkan kita betapa hidup tertalu mahal untuk kita lewatkan dengan sia-sia atas dasar kelemahan.

 

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87).

 

Dari sisi saya. Begitulah hidup, tidak selalu apa yang kita pesan, apa yang kita rencanakan dengan matang, apa yang kita lakukan denga baik, apa yang kita upayakan dengan maksimal akan memberikan hasil sesuai dengan harapan kita. Ketidaksesuaian ini bisa jadi lebih baik, namun bisa juga lebih buruk. Terkadang, ketidaksesuaian kenyataan ini bukan karena kita tidak matang dalam perencanaan, bukan karena kita tidak maksimal dalam berupaya, bukan pula karena orang lain yang ingin menghalangi kita atas harapan-harapan kita, namun karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan. Allah lebih tahu apa yang lebih baik bagi kita

 

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

 

Ya, begitulah Allah memberi pelajaran kepada manusia

Begitu bermakna, walau hanya dari dua bungkus nasi goreng yang tidak sesuai pesanan.

Subhanallah.

 

Wallahua’lam.

Advertisements

One thought on “Seporsi Hikmah dalam Dua Bungkus Nasi Goreng”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s